Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Buktikan Teknologi Dongkrak Produksi, Kebun Eptilu Garut Binaan Bank Indonesia Jadi Contoh Pertanian Modern

Senin, 16 Februari 2026 | Februari 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-04T19:41:51Z

 

Berada di tengah-tengah Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray – gunung tertinggi kedua di Jawa Barat-, Kebun Eptilu di Garut berada di tanah vulkanik di atas ketinggian 1.200 MDPL. Dengan penerapan teknologi tepat guna serta sistem budidaya modern yang diterapkan secara konsisten membuat kebun ini mampu meningkatkan produksi pertanian dan menjadi contoh pertanian modern.

KEBUN Edukasi Eptilu atau singkatan dari F3 (Fresh From Farm) yang berada di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berkembang menjadi contoh pertanian modern berbasis hortikultura di Indonesia. Kebun ini mampu memanfaatkan kondisi geografis pegunungan yang sejuk, tanah yang subur untuk membudidayakan berbagai komoditas hortikultura, mulai jeruk, lemon, cabai, tomat dan sejumlah sayuran.

Penerapan teknologi tepat guna, pengelolaan irigasi yang baik, serta sistem budidaya modern yang diterapkan secara konsisten, membuat kebun ini berhasil menghasilkan panen melimpah.

Owner Eptilu, Rizal Fahreza menjelaskan Kebun Eptilu ini sengaja dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi petani maupun masyarakat umum. Di lokasi tersebut diterapkan dua model pertanian sekaligus, yakni metode alami dan pertanian berbasis teknologi.

“Supaya pengunjung bisa melihat langsung perbedaannya. Pertanian alami seperti apa hasil dan pertumbuhannya, dan area pertanian yang menggunakan teknologi seperti apa. Dan ternyata beda baik dari pertumbuhan dan produktivitas panen,” ujar Rizal saat kunjungan media yang difasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur ke kawasan agrowisata Eptilu di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, perbedaan hasil terlihat jelas pada budidaya cabai rawit. Tanaman yang dibudidayakan secara alami memiliki masa tanam sekitar delapan bulan, terdiri dari empat bulan masa pertumbuhan dan empat bulan masa produksi. Kondisi daun cenderung kecil, keriting, dan mudah menguning.

Sedangkan, cabai rawit yang ditanam menggunakan teknologi mampu bertahan dua hingga tiga tahun. Tanaman tumbuh lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 1,5 meter, dengan daun lebar berwarna hijau segar serta buah cabai yang lebih besar dan panjang.

“Produktivitas panen dengan sentuhan teknolog bisa mencapai tiga kali lipat panen alami,” katanya.

Rizal menjelaskan, teknologi budidaya yang dipakai di Kebun Eptilu banyak diadaptasi dari Amerika Serikat, saat dia belajar pertanian di California beberapa tahun silam. Sistem penanaman dilakukan di dalam greenhouse, sedangkan penyiraman tanaman diatur melalui aplikasi digital yang dapat dikendalikan menggunakan ponsel.

Demikian halnya dengan pemupukan, pemberian nutrisi agar terhindar hama, semua bisa dikendalikan melalui aplikasi digital.

“Konsepnya smart farming, jadi lebih presisi dan efisien. Memanfaatkan Internet of Things (IoT), sensor tanah, drone, perangkat lunak analisis data, dan sistem irigasi otomatis untuk memantau kondisi lahan, mengoptimalkan penggunaan pupuk dan air, serta memprediksi hasil panen secara akurat,” katanya.

Menurutnya, pembangunan greenhouse berkapasitas sekitar 4.000 tanaman itu mendapat dukungan Bank Indonesia sejak 2022. Hasilnya, produktivitas meningkat signifikan dengan kualitas panen yang lebih stabil.

“Greenhouse ini telah memasuki dua siklus tanam. Pada penanaman pertama, tanaman mampu bertahan hingga tiga tahun. Bahkan, setelah tiga bulan masa tanam awal, panen sudah dapat dilakukan secara rutin setiap pekan. Setiap minggu bisa panen, dan sekali panen hasilnya di atas satu ton,” jelasnya.

Rizal menyebut, produksi cabai, tomat, dan komoditas hortikultura lainnya awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Namun, karena hasil yang melimpah, Kebun Eptilu kini mampu memperluas pasar melalui kerjasama antar daerah, sehingga produk pertanian mereka dapat dipasok hingga ke DKI Jakarta dan Banten.

Alumni IPB Bogor ini mengatakan konsep pengembangan usaha yang diterapkan mengintegrasikan proses produksi hingga pemasaran dalam satu sistem manajemen terpadu. Model tersebut memungkinkan pengawasan kualitas produk sejak tahap budidaya hingga sampai ke konsumen.

“Kami berupaya memastikan hasil panen memiliki standar yang sama sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani,” ujarnya.

Saat ini, lahan hortikultura yang dikelola mencapai lebih dari 75 hektare dengan komoditas utama meliputi jeruk, cabai, tomat, lemon dan sayuran dataran tinggi lainnya. Pengelolaan dilakukan melalui koperasi produsen yang menghimpun puluhan anggota aktif serta ratusan petani binaan, mayoritas berasal dari kalangan generasi muda.

Agrowisata Edukatif

Selain fokus pada produksi, Eptilu juga mengembangkan konsep agrowisata edukatif. Pengunjung dapat mengikuti aktivitas petik buah jeruk langsung di kebun serta mengenal proses budidaya hortikultura secara praktis. Kehadiran fasilitas restoran di area kebun turut memperkuat konsep “farm to table”, yakni penyajian makanan berbahan baku hasil panen sendiri.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha, pengelola melakukan diversifikasi produk melalui pengolahan hasil pertanian menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti makanan olahan berbasis buah dan produk turunan cabai. Strategi ini dinilai efektif dalam menjaga stabilitas pendapatan petani ketika produksi melimpah.

Sejak berdiri pada 2019, Kebun Eptilu terus menunjukkan perkembangan pesat. Dari awalnya hanya mengelola lahan seluas 5 hektare, kini area pertanian yang dikelola telah berkembang menjadi sekitar 75 hektare.

Kepala Divisi Implementasi (Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah) Kantor Perwakilan BI Jatim Yono Haryono mendukung penuh digitalisasi pertanian guna memacu produktivitas panen seperti yang diterapkan Kebun Eptilu.

Transformasi Eptilu menjadi bukti bahwa penerapan teknologi, edukasi, dan kolaborasi mampu menghadirkan wajah baru pertanian Indonesia yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.

Bank Indonesia melalui program pengembangan klaster turut memberikan pendampingan kelembagaan, peningkatan kapasitas manajemen, serta dukungan promosi dan akses pasar.

“Program tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok pangan sekaligus mendorong pelaku usaha pertanian naik kelas,” katanya.

Bank Indonesia kata Yono Haryono juga berharap Eptilu dapat menjadi contoh praktik baik pengembangan agribisnis terpadu yang menggabungkan koperasi, inovasi teknologi, dan sektor pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah. (tis)

×
Berita Terbaru Update