Oleh: Ulul Albab
Akademisi FIA Unitomo,
Ketua ICMI Jatim
KUNJUNGAN Presiden Prabowo Subianto ke Rusia adalah sinyal bahwa Indonesia sedang bergerak, perlahan tapi pasti, keluar dari zona nyaman politik luar negeri yang selama ini cenderung normatif, menuju arah yang lebih strategis, adaptif, dan berani membaca perubahan zaman.
Di tengah dunia yang kian terbelah, langkah ke Moskow seolah jadi sebuah pesan bahwa Indonesia tidak ingin terjebak dalam dikotomi lama antara Barat dan Timur. Indonesia memilih jalannya sendiri.
Pertemuan panjang antara Prabowo dan Vladimir Putin di Kremlin, yang berlangsung hingga lima jam, memperlihatkan kehangatan personal, mengandung bobot geopolitik yang serius. Dari energi hingga militer, dari industri hingga Antariksa. Pembicaraan keduanya mencerminkan adanya kerja sama yang semakin konkret dan multidimensional.
Yang paling menarik adalah sektor energi. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia mulai membuka diri terhadap alternatif baru, termasuk Rusia. Ketika dunia menghadapi disrupsi pasokan energi akibat konflik geopolitik, ketergantungan pada satu kawasan menjadi risiko yang tidak lagi bisa ditoleransi. Targetnya untuk diversifikasi. Dan Rusia, dengan segala kompleksitasnya, menawarkan peluang itu.
Langkah ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Mendekat ke Rusia berarti bersiap menghadapi tekanan dari Barat, terutama dalam konteks sanksi global yang masih membayangi Moskow. Namun di sinilah letak ujian kemandirian Indonesia.
Apakah politik luar negeri “bebas aktif” hanya akan menjadi slogan, atau benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang berani mengambil posisi?
Dan menurut saya, Prabowo tampaknya memilih opsi kedua.
Lebih jauh, kerja sama yang dibangun tidak berhenti pada perdagangan. Ada upaya serius untuk mendorong hilirisasi, transfer teknologi, hingga penguatan kapasitas industri nasional. Ini sejalan dengan ambisi besar Indonesia untuk keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah.
Jika dikelola dengan baik, kemitraan ini bisa menjadi katalis transformasi ekonomi. Namun jika tidak, ia berpotensi menjadi ketergantungan baru dalam wajah yang berbeda.
Di sisi lain, pembahasan sektor militer menunjukkan kehati-hatian Indonesia. Tidak ada manuver agresif, tetapi pendekatan bertahap melalui pendidikan dan penguatan sumber daya manusia. Ini seolah mencerminkan konsistensi Indonesia dalam menjaga keseimbangan, tidak terseret dalam blok, tetapi tetap memperkuat kapasitas nasional.
Yang juga tak kalah penting adalah dimensi geopolitik. Dunia hari ini tidak lagi unipolar. Kekuatan-kekuatan baru bermunculan, dan konfigurasi global menjadi semakin cair.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia memiliki ruang untuk memainkan peran lebih besar, dengan catatan asal mampu membaca momentum.
Kunjungan ke Rusia, dalam konteks ini, sepertinya menempatkan Indonesia sebagai aktor yang relevan, bukan sekadar penonton.
Namun, semua ini akan diuji oleh konsistensi. Diplomasi tidak berhenti pada pertemuan, tetapi pada implementasi. Undangan lanjutan dari Rusia untuk forum industri dan inovasi menunjukkan bahwa peluang terbuka lebar.
Pertanyaannya: seberapa siap Indonesia memanfaatkannya?
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, kita melihat bahwa dunia sedang berubah. Dan Indonesia, melalui langkah-langkah seperti ini, mulai menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin hanya mengikuti arus. Indonesia ingin ikut menentukan arah. Dan mungkin, dari Kremlin, langkah itu benar-benar dimulai. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar