SURABAYA | Pro-Desa.com - Setelah sempat jeda selama bulan Ramadan dan libur Lebaran, kegiatan Bakti Kesehatan (Bakes) Akupubtur Gratis kembali menyapa warga di area Car Free Day (CFD) Tunjungan, Surabaya, Minggu (3/5/2026).
Atusiasme masyarakat tetap tinggi. Begitu stan dibuka, kursi lipat yang disediakan bagi peserta yang akan diakupuntur langsung penuh. Sejunlah warga tampak sabar menunggu antrean agar juga diterapi dengan teknik pengobatan akupuntur.
Suryawan, SE., B.Med., M.Med., Ket, yang memimpin jalannya pengobatan, mengatakan, untuk keperluan lancarnya kegiatan, pihaknya menurunkan 20 praktisi profesional.
"Pagi ini kita mengobati sebanyak 20 warga yang ada di CFD. Antusiasne warga memang tinggi, namun waktunya juga terbatas," papar pria yang juga Ketua Perkumpulan Pengobat Tradisional Interkontinental Indonesia (PPTII).
Dilanjutkan Suryawan, para praktisi profesional berasal dari PPTII (Perkumpulan Pengobat Tradisional Interkontinental Indonesia), PPTI (Perkumpulan Pengobatan Tradisional Indonesia), PKNI DPD Jawa Timur, Universitas Airlangga D4 Pengobat Tradisional (Battra), Universitas Katolik Darma Cendika D4 Akupuntur dan Pengobatan Herbal.
"Dari 20 praktisi tersebut, 14 Tenaga Kesehatan Tradisional (Nakestrad), 6 Mahasiswa dari UNAIR dan UKDC," katanya.
Oei Tjing Yen, Sekretaris YHMCHI, mengatakan, terlaksananya Bakes Akupuntur Gratis berkat kerja sama YHMCHI, DPW PITI Jatim dengan Kantor Kecamatan Genteng, Dinas Lingkungan Hidup dan perkumpulan-perkumpulan akupuntur.
"Alhamdulillah, warga yang sedang CFD cukup antusias untuk mencoba pengobatan akupuntur. Mudah-mudahan memberikan banyak manfaat kesehatan untuk warga Surabaya," katanya.
Beberapa warga mengaku sangat terbantu dengan kehadiran layanan kesehatan ini yang ditempatkan di CFD Jl Tunjungan. Bakri, seorang pesepeda asal Surabaya yang baru pertama kali mencoba, merasa terbantu untuk memulihkan capek-capek di tubuhnya.
"Sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang sedang CFD-an di Tunjungan untuk mencoba terapi capek-capek di sini," katanya.
Senada warga Surabaya lainnya adalah Dina. Ia memanfaatkan layanan ini untuk mengobati bekas cedera akibat jatuh dari motor. Meski sudah pernah dipijat, namun ia ingin mencoba dengan teknik pengobatan akupuntur.
"Sangat membantu bagi yang ingin mencoba pengobatan selain medis konvensional, terutama bagi warga yang tidak ter-cover BPJS. Kalau diadakan seminggu sekali pasti lebih bagus lagi," harap Dina.
Sugiono, warga Kampung Maspati, bahkan rela membawa ibunya yang berusia 85 tahun menggunakan kursi roda. Ia mengaku kondisi sang ibu berangsur membaik setelah beberapa kali menjalani terapi akupuntur.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para praktisi akupuntur dan Cheng Hoo yang mengadakan acara ini," katanya. (Tamam Malaka)
