![]() |
| KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) |
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memberi arahan dalam
Silaturahmi & Halal Bihalal PCNU Se-Jawa Timur di Pondok Pesantren
Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan, Madura, Senin (4/5/2026). Berikut pidato
arahan Gus Yahya dalam acara tersebut.
Assalāmualaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Alhamdulillāh wa syukrulillāh, was shalātu was salāmu alā Rasūlillah
Sayyidina wa Maulana Muhammad ibni Abdillah, wa 'alā ālihii wa shahbihi wa man
wālāh. Amma ba’ad.
Yang mulia KH Muhammad Faisol Anwar beserta segenap dzurriyah Syaikhona KH
Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan. Kiai Imam Bukhori Kholil, Kiai
Fakruddin Aschal, Kiai Makki Nasir, Kiai Nasih Aschal, dan lain-lain yang hadir
bersama kita malam ini.
Alhamdulillah. Yang saya hormati para kiai, para rais syuriyah PCNU
se-Madura, dan pimpinan MWCNU se-Bangkalan. Alhamdulillah. Fatayat…! Mana
Fatayatnya? Muslimat…! NU…! Alhamdulillah.
Saya sangat berbahagia bahwa saya mendapatkan takdir istimewa dari Allah
Subhanahu wa ta'ala bisa hadir bersama panjenengan semua—para pimpinan,
kader-kader, dan warga Nahdlatul Ulama se-Madura dan se-Kabupaten Bangkalan
ini, di tempat yang mubarok ini. Saya bisa merasakan betapa barokah dari
Syaikhona Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif ada bersama-sama kita pada malam
hari ini. Apalagi dalam suasana yang riang gembira dan penuh semangat.
Alhamdulillah kita semuanya berbahagia dan bergembira pada kesempatan malam
ini.
Keulamaan dari masa ke masa
Bapak-bapak, Ibu-ibu, para kiai, para nyai, hadirin wal hadirat yang saya
hormati.
Alhamdulillah, kita merasakan bahwa semangat—bukan hanya kesadaran, tapi
semangat—dari warga untuk ber-Nahdlatul Ulama semakin kuat,
semakin tinggi di tengah-tengah masyarakat kita.
Saya sering mengulang-ulang karena ini merupakan kebanggaan bahwa orang
yang mengaku NU di Indonesia ini sudah 57% dari penduduknya. Itu berarti lebih
dari 100 juta orang, mungkin 120 juta atau sampai dengan 140 juta dari penduduk
Indonesia ini mengaku NU.
Ini menjadi gambaran dari apa yang 92 tahun yang lalu dinyatakan oleh
Hadratussyekh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari dalam nasrah yang Beliau umumkan dalam rangka Idul Fitri tahun itu, 1335, Beliau mengatakan:
“Inna jam’iyatanal mubārakah walhamdulillah qad hāzat iqbālal awāmmi
‘alaiha,” bahwa jam’iyah kita ini telah tampak diterima oleh masyarakat
umum. “Walaisa dzālika illa liannaha ta’malu limaslahatihim watasa'ā
likhairihim dunyan wa ukhrā,” dan diterimanya jam’iyah Nahdlatul Ulama
oleh masyarakat umum itu adalah karena jam'iyah ini bekerja untuk kemaslahatan
mereka semua, berupaya untuk kebaikan mereka semua, baik kebaikan dunia maupun
akhirat.
Dan ini merupakan pelaksanaan dari isyarah yang disampaikan oleh Syaikhona
Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif melalui Kiai As'ad Syamsul Arifin kepada
Kiai Muhammad Hasyim Asy'ari tentang tongkat Musa itu. Bahwa kebutuhan akan
tongkat Musa itu adalah "atawakka'u ‘alaihâ wa ahusysyu bihâ ‘alâ
ghanamî wa liya fîhâ ma'âribu ukhrâ". (QS. Thaha: 18).
Walaupun ada pertanyaan, apakah ada ulama sejati dengan kualifikasi yang
berat—seperti yang disampaikan oleh Kiai Makki tadi? Tapi kita butuh jam'iyah
ini. Butuh untuk apa? Untuk menjadi penopang agar tegak langkah kita di
tengah-tengah jalan yang sulit. Kita butuh untuk mengupayakan kemaslahatan bagi
warga jamaah yang ada di dalam asuhan kita. Dan kita butuh untuk berbagai macam
keperluan lainnya. Mengenai kualifikasi dari ulama itu sendiri, ini sesuatu
yang sebetulnya kurang lebih nisbi, sesuatu yang relatif karena zaman
berkembang.
Para ulama pada masa Syaikhona mungkin belum cukup percaya diri untuk
mengaku ulama karena teringat pada ulama-ulama pendahulu yang hebat-hebat, dari
generasi Kiai Abdul Muhaimin, dari generasi Kiai Nawawi Banten. Apalagi
ulama-ulama sebelumnya, dari generasi Imam Ghazali, Imam Syafi'i, dan lain
sebagainya. Mungkin para ulama pada waktu itu merasa kurang percaya diri untuk
menganggap dirinya ulama. Sampai-sampai Syaikhona mengatakan, "Apa masih
ada ulama di Jawa sekarang ini?” kalau diukur dengan kualitas ulama-ulama pada
masa lalu.
Tetapi—hadirin wal hadirat yang saya hormati—sesungguhnya berkembangnya
Islam dan berkembangnya Nahdlatul Ulama sampai sedemikian besar sekarang ini,
tidak lain karena relatif konsisten, relatif lestari standar keulamaan dari masa
ke masa.
Kiai saya, Kiai Maimoen Zubair Allah yarham, ketika menerangkan akhir dari
Surah al-Fath:
“Muḫammadur rasûlullâh, walladzîna ma‘ahû asyiddâ'u ‘alal-kuffâri ruḫamâ'u
bainahum tarâhum rukka‘an sujjaday yabtaghûna fadllam minallâhi wa ridlwânan
sîmâhum fî wujûhihim min atsaris-sujûd, dzâlika matsaluhum fit-taurâti wa
matsaluhum fil-injîl, kazar‘in akhraja syath'ahû fa âzarahû fastaghladha
fastawâ ‘alâ sûqihî yu‘jibuz-zurrâ‘a liyaghîdha bihimul-kuffâr…” (QS.
Al-Fath: 29).
Ketika menerangkan makna dari fastawâ, Kiai Maimoen mengatakan maknanya
adalah rampak. Rampak itu artinya, kurang lebih, sama tinggi. Zar‘ itu adalah
padi. Padi itu ada satu induk dengan, biasanya, 12 tunas dari setiap induknya.
Tapi ketika tunas ini tumbuh menjadi kuat, fastawâ ‘alâ sûqihî, sehingga dia
menjadi setara tingginya, rampak. Kita tidak pernah melihat perbedaan tinggi
antara induk padi dengan tunas-tunasnya ketika tunas-tunas itu sudah tumbuh
sempurna.
Maka, sebetulnya, kalau diukur dari generasi ke generasi berikut, dalam
waktu yang pendek, ulama kita ini sebetulnya relatif, selisih kualitasnya,
tidak begitu ketara. Dari Syaikhona Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif ke
Hadratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy'ari selisihnya tidak terlalu ketara,
seolah-olah rampak. Dari Kiai Hasyim Asy'ari ke Kiai Wahab Hasbullah,
seolah-olah rampak. Dari Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri ke
generasi Kiai Ali Maksum, seolah-olah masih setara. Baru kelihatan jaraknya,
itu setelah dari Kiai Muhammad Kholil ke Kiai Imam Bukhari Kholil. Baru
kelihatan, karena sudah terlalu jauh. Maka kalau ulama Jawa pada waktu itu
dibandingkan dengan ulama dari generasi Kiai Nawawi Banten, misalnya, memang
terlihat jaraknya. Tapi kalau dikatakan tidak ada ulama, lalu bagaimana hidup
umat ini, kalau memang sungguh-sungguh haqiqiyan tidak ada ulama? Tidak
mungkin.
Maka kalau Syikhona Kiai Muhammad Kholil mengatakan, "Apa ada ulama di
Jawa?" Ini adalah liajli tawadlu’, karena tawaduk beliau, "Apa ada
ulama yang sejati?" Karena memang dari generasi ke generasi ini selalu ada
perbedaan. Apalagi zaman sekarang.
Dulu, pada zaman kakek saya, karena kehebatan dari Hadratussyekh Kiai
Muhammad Hasyim As'ari, Kiai Wahab Abdullah, kehebatan dari Syaikhona Muhammad
Kholil Bangkalan, banyak orang-orang yang bukan kiai kepingin anaknya juga jadi
kiai, karena kiai menunjukkan haibah yang luar biasa, menunjukkan karamah yang
luar biasa, sehingga yang bukan kiai kepingin anak-anaknya jadi kiai.
Bapaknya kakek saya itu bukan kiai, pedagang; tapi kepengin anak-anaknya jadi
kiai, sehingga anak-anaknya disuruh mondok semua—supaya jadi kiai. Pada zaman
bapak saya, ini mulai ada kiai-kiai yang tidak terlalu kepingin anaknya jadi
kiai. Kiai, tapi tidak terlalu kepengin anaknya jadi kiai. Anaknya tidak
disuruh ngaji; disuruh sekolah kedokteran, sekolah, teknik jadi dokter, jadi
insinyur, sekolah sospol, jadi politisi, dan lain sebagainya. Ke mana-mana
tetap dipanggil gus, walaupun kalau disuruh ngaji ya wallāhu a’lam
bish-shawab.
Pada zaman saya, itu zaman ketika Gus Dur sedang moncer-moncernya, sehingga
nisbat Gus itu punya haibah yang luar biasa. Pada masa itu, banyak orang yang
sebetulnya bukan gus, bapaknya bukan kiai, minta dianggap gus, minta dipanggil
gus. Dukun-dukun itu minta dipanggil gus semua. Ini sampai saya cerita kemarin
waktu di Pasuruan, di Jombang itu saya pernah nemuin ada tempat reparasi jam;
di situ plangnya itu tulisannya Gus Seiko, dukun jam, karena gus begitu hebat.
Pada zaman milenial ini, masyaallah, mulai banyak orang-orang yang
sebetulnya bukan kiai, minta dianggap kiai. Ini masyaallah. Ini adalah hal-hal
yang memang tidak terelakkan karena perkembangan zaman.
Nisbat itu ibarat cangkang kepiting. Bentuknya seolah-olah sama, cangkang
kepiting itu. Tapi kepiting itu isinya bisa beda-beda. Ada kepiting yang
dagingnya banyak, ada kepiting yang dagingnya sedikit.
Sampeyan bisa bandingkan nisbat ketua umum PBNU, misalnya. Ketua umum PBNU itu,
dulu, isinya—yang menyandang nisbat ketua umum—itu KH Abdurrahman ad-Dakhil bin
Abdul Wahid bin Hasyim bin Asy'ari. Sekarang, ketua umumnya cuma begini. Ketua
umumnya cuma Yahya Cholil.
Ini menunjukkan bahwa walaupun nisbat itu masih seperti sama bentuknya,
tapi isinya tergantung zaman.
Pengurus NU, dulu kalau jadi pengurus NU itu sudah masyaallah. Tapi isinya,
(pengurus sekarang) ditanya Fikrah Nahdliyah saja itu belum tentu (bisa
menjawab). Nah, ini adalah akibat dari perubahan zaman. Ini semua kita sadari
sejak awal.
Agenda NU: konsolidasi organisasi
Bapak, Ibu, hadirin wal hadirat yang saya hormati.
Itulah sebabnya, pada periode ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menerapkan
agenda-agenda sedemikian rupa untuk mendekatkan kembali antara isi dengan
cangkang ini.
Di antara upaya-upayanya adalah dengan kita memerinci berbagai macam aturan
main, memerinci berbagai macam norma-norma yang dulu pada masa Hadratussyekh,
pada masa pendahulu-pendahulu kita tidak perlu ditulis. Kenapa? Karena semua
orang sudah menginternalisasi bahwa norma-norma, etika, aturan-aturan itu sudah
menjadi bagian dari haliyah-nya. Enggak usah pakai pasal-pasal, Hadratussyekh
itu haliyah-nya sudah seperti AD/ART, walaupun tidak ditulis. Bagaimana cara
bergaul satu sama lain, bagaimana cara membuat keputusan, bagaimana wewenang
dari setiap jabatan, semua orang sudah tahu sama tahu tanpa harus ditulis.
Tapi karena perkembangan zaman yang sedemikian rupa, hal-hal yang dulu
sudah menjadi bagian dari haliyah syahshiyah dari para pendahulu kita itu, ini
sekarang perlu kita perjelas menjadi aturan-aturan tertulis.
Itulah sebabnya, maka saya minta bantuan Lora Amin Said Husni ini untuk
membuat desain-desain tata kelola organisasi yang lengkap; Sehingga sekarang,
selain memiliki AD/ART, kita punya 23 Peraturan Perkumpulan yang merinci
berbagai macam urusan di dalam mengelola jam'iyah Nahdlatul Ulama ini.
Dulu, sebelum periode ini, hanya ada satu peraturan organisasi. Satu saja,
isinya umum. Sekarang kita perinci menjadi 23 Peraturan Perkumpulan. Ini supaya
menjaga, supaya kelakuannya orang zaman ini, kelakuannya ini dekat dengan
standar haliyah dari para pendahulu kita. Para pendahulu kita dulu tidak butuh
peraturan tertulis karena semua norma etika itu sudah menjadi bagian dari
haliyah beliau.
Maka salah seorang kiai saya mengatakan, "Ada bedanya antara shāhibul
i’lmi dan wi'āul ‘ilmi." Itu ada bedanya. Sama-sama tahu banyak hal,
sama-sama haal macam-macam, tapi beda antara shāhibul i’lmi dan wi'āul
‘ilmi. Kalau shāhibul i’lmi itu ilmunya sudah melekat dalam dirinya,
sehingga apa pun yang dia lakukan sesuai dengan ilmunya. Karena ilmu itu
melekat dalam haliyah-nya. Tapi kalau wi'āul ‘ilmi itu sekadar wadah
ilmu. Wadah ilmu itu kalau dituang ya ilmunya hilang. Botol-botol air mineral
itu, kalau dituang isinya botolnya jadi kosong. Air itu tidak menjadi bagian
dari botolnya. Itu wi'āul ‘ilmi. Sama-sama tahu, tapi ilmu belum
menjadi haliyah syahshiyah-nya. Nah, karena kesadaran bahwa ada gejala semakin
akhir zaman ini, maka haliah syahshiyah dari orang-orangnya ini semakin
berjarak dari standar para pendahulu, maka kita berusaha melakukan ini.
Setelah desain-desain itu, setelah aturan-aturan itu diselesaikan oleh Lora
Amin, lengkap, kita butuh untuk bisa menyosialisasikan, bisa menyebarkan,
mengajarkan kepada kader-kader Nahdlatul Ulama. Itulah sebabnya, lalu kita juga
mengadakan rangkaian pelatihan-pelatihan kader, mulai dari PDPKPNU, kemudian
disusul dengan PMKNU, dan nanti akan dipuncaki dengan AKNNU.
Lahirnya NU bagian dari fenomena pembaharuan
Bapak Ibu sekalian. Saya pribadi yakin bahwa kelahiran jam'iyah Nahdlatul
Ulama ini adalah min dzawāhiri tajdīdil Islām. Min dzawāhiri tajdīdil, salah
satu dari gejala fenomena tajdid.
Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Innallāha
yab’asu lihadzihil ummati ‘alā ra'si kulli miati sanatin man yujaddidu lahā dīnaha," bahwa
Allah pada setiap kepala dari 100 tahun membangkitkan bagi umat ini aktor (man)
yang men-tajdid bagi mereka agama mereka. Tajdid ini, dalam hal ini, bukannya
menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada. Tajdid dalam agama itu
adalah menghidupkan kembali, menyegarkan kembali hal-hal dari agama ini yang
mulai kelihatan pudar, mulai kelihatan berkurang cahayanya, disegarkan kembali.
Itu tajdid.
Nah, masalahnya ada perbedaan pandangan di antara para ulama
mengenai ra'su kulli miati sanatin. Ini banyak ulama, termasuk
sebetulnya kakek saya sendiri, Kiai Bisri Mustofa dan adiknya Kiai Misbah
Mustofa: Ra'su kulli miati sanatin itu adalah pada setiap awal 100
tahun. Jadi, kira-kira kalau abad ini ra'su hadzal qarni itu tahun 1400.
Kira-kira begitu.
Maka saya ingat betul, sekitar akhir masa dari kakek saya Kiai Bisri
Mustofa, sebelum beliau wafat tahun 1976—beliau wafat tahun 1977—dalam
pengajian-pengajian beliau sering menyinggung bahwa “kita sedang menunggu
mujaddid, sebentar lagi, sebentar lagi”. Karena tahun 1400 itu jatuhnya
kira-kira sekitar tahun 1980. Itu tahun bertepatan dengan tahun 1400 Hijriyah.
Tapi kemudian, menurut adiknya kakek saya Kiai Misbah Mustofa, beliau
memandang bahwa ternyata tahun 1980 tidak terjadi apa-apa. Tidak terjadi
sesuatu yang bisa dilihat sebagai min dzawāhiri tajdīd itu. Apalagi
terkait dengan NU. Tahun 1980 itu tidak terjadi apa-apa di NU. Sampai-sampai,
saya ingat, Kiai Misbah Mustofa tahun 1990-an beliau mengatakan, "NU masih
ada ini jangan-jangan sudah maksa karena sudah lewat masanya tajdid, tapi tidak
terjadi apa-apa. Kalau sudah lewat, berarti sudah habis ajalnya." Itu
dalam pandangan Kiai Misbah Mustofa: sudah sampai ajalnya.
Tapi ada pandangan lain yang saya dengar dari Kiai Maimoen Zubair. Menurut
Kiai Maimoen Zubair bahwa ra'su kulli miati sanatin itu yang lebih
tepat adalah antara tahun ke-40 dan tahun ke-50 setiap abadnya. Jadi tahun 40,
tahun 140, tahun 240, dan seterusnya. Ini menurut Kiai Maimoen Zubair.
Kenapa? Karena ada riwayat, seorang mantan rabi Yahudi yang kemudian masuk
Islam pada zaman Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam yaitu Ka'ab
al-Akhbar yang menceritakan tanda-tanda nabi akhir zaman yang dia ketahui
disebutkan di dalam Taurat. Beliau katakan bahwa nabi akhir zaman
itu “mauliduhu bi Makkah wa hijratuhu bil Madinah wa shulthanuhu bi
Syam.” Dalam kitab Taurat disebutkan bahwa nabi akhir zaman itu lahir di
Makkah, hijrah ke Madinah, dan sultannya, kelihatan cahaya kebesarannya, itu di
Syam. Dan, kita tahu dalam sejarah, meluasnya pengaruh Islam itu dimulai dari
berdirinya Daulah Islamiyah, Daulah Umayyah di Syam, di Damaskus. Dan itu
terjadi tepat pada tahun 40 Hijriah.
Maka Kiai Maimoen menafsirkan bahwa ra'su kulli miati sanatin itu
adalah antara tahun ke-40 dan tahun ke-50.
Sementara, Nahdlatul Ulama ini lahir pada tahun 1344 Hijriah. Dan dari
berbagai riwayat, sebetulnya sudah dipikirkan sejak beberapa tahun sebelumnya,
karena masih menunggu isyarah dari Syaikhona Muhammad Kholil. Sementara
Syaikhona sendiri itu wafat tahun 1925, sebelum Nahdlatul Ulama didirikan. Jadi
sebelumnya ini sudah dipikirkan “bagaimana ini, bagaimana?” sampai ada isyarah
dari Syaikhona. Jadi berdirinya itu sekitar di dalam era antara tahun ke-40 dan
tahun ke-50, karena 1344.
Maka saya yakin bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama ini min dzawāhiri tajdīd,
termasuk di antara fenomena-fenomena tajdid.
Maka kita harus berupaya supaya tajdid ini betul-betul terjadi dan
terlihat. Dengan cara apa terlihatnya? Dengan berkembangnya kembali, diingatnya
kembali, dipahami kembali, ditegakkan kembali ajaran-ajaran, nilai-nilai,
prinsip-prinsip yang dulu dipegangi oleh para pendahulu kita.
Untuk itulah, sebetulnya—hadirin wal hadirat—Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
kemudian menetapkan agenda pelatihan-pelatihan kader, dimulai dengan PDPKPNU
ini—yang diikuti oleh para ketua MWC. Tapi karena sudah agak lama, lalu lupa
isinya. Diingatkan kembali tentang Fikrah Nahdiyah. Diingatkan kembali tentang
sejarah NU, tentang pemahaman harakah NU, dan seterusnya. Ini adalah ikhtiar
untuk betul-betul mewujudkan adanya tajdid.
Tapi sesudah tajdid itu, ini harus dikelola. Jadi kalau kita menyebarkan
tajdīdun nahdlah, dengan PDPKPNU, selanjutnya nahdlah ini harus dikelola. Maka kita lanjutkan dengan PMKNU. Itu adalah tadbīrun
nahdlah, mengelola nahdlah. Yang diajarkan di dalam pelatihan PMKNU itu adalah
bagaimana mengelola organisasi ini. Nanti akan kita susul dengan AKNNU—Akademi
Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama—itu adalah ta’zīzun nahdlah, untuk
membuat jam'iyah ini betul-betul kuat dan menangan, kalau orang Jawa bilang.
Ta’zīzun nahdlah.
NU menjalankan fungsi ulama
Hadirin wal hadirat yang saya hormati.
Ini semua adalah ikhtiar-ikhtiar kita untuk menghadirkan jam'iyah ini di
tengah-tengah masyarakat kita sebagai sungguh-sungguh merupakan panduan untuk
kemaslahatan mereka, baik kemaslahatan dunia maupun kemaslahatan akhirat. Maka
yang paling utama diingat oleh jam'iyah ini adalah bagaimana jam'iyah ini
sungguh-sungguh bisa menghadirkan fungsi dari ulama. Karena sebagaimana
dikatakan oleh Hadratussyekh bahwa ini adalah jam'iyah-nya ulama, yang diajak
masuk ke dalam jam'iyah ini adalah para ulama, dengan asumsi bahwa para ulama
itu akan diikuti oleh pengikut-pengikutnya untuk bergabung di dalam jam'iyah
Nahdlatul Ulama ini. Maka kita harus berupaya agar jam'iyah ini menjalankan
fungsi ulama.
Kalau kita ingin memahami apa fungsi ulama, mari kita ingat kembali bagaimana
dulu, misalnya, Syaikhona Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif menghadirkan
diri di tengah-tengah umat ini. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab-kitab, Beliau tidak hanya mengasuh santri-santri di pesantrennya, tapi Beliau mengasuh seluruh masyarakat: yang minta doa didoakan, minta suwuk
disuwuk, minta jimat dikasih jimat. Sampai ada riwayat Bupati Bangkalan waktu
itu minta srono untuk tolak hujan, dan dikasih wifiq yang tulisannya saya
enggak tega membaca di sini, tapi ini sudah terkenal di antara hadirin wal
hadirat sekalian.
Ada cerita—apa kalau orang Madura bilang—PSK yang minta didoakan laris, dan
didoakan laris beneran, sampai kapok dan minta doanya dicabut karena terlalu
laris, katanya. Itu Syaikhona.
Kalau kita mengharapkan ada karamah seperti Syaikhona Kiai Muhammad Kholil,
wallahuam. Wallahuam. Karena dulu Syaikhona itu, bagaimana, kertas ditulisi
macam begitu saja bisa tolak hujan. Saya tidak tahu, untuk nolak hujan, Kiai
Imam Bukhari Kholil harus nulis apa ini?
Apalagi kalau kita bayangkan kehadirannya. Mari kita bayangkan, seandainya
Syaikhona Kiai Muhammad Kholil hadir di sini, apa berani MC naik panggung kayak
tadi itu? Apalagi ana’ bine’ tadi itu. Tidak mungkin berani. Tapi sekarang ada
hadratussyekh-hadratussyekh sini, berani saja sekarang ini, karena sudah lain
hadratussyekh-nya dibanding Hadratussyekh yang dulu. Ini masalahnya. Nah,
bagaimana kita bisa menghadirkan jam'iyah Nahdlatul Ulama ini dengan fungsi
yang mendekati, dengan kapasitas yang mendekati seperti kehadiran para pendahulu
kita.
Dulu itu Syaikhona Kiai Muhammad Kholil tidak perlu bikin Puskesmas di
dalam pondok pesantren. Tidak perlu. Tidak perlu bikin klinik di sini. Tidak
perlu. Tidak perlu ngundang dokter. Tidak perlu bikin koperasi. Ada orang butuh
apa, didoakan saja, hasil sudah. Orang sakit apa saja, disuwuk, sembuh, enggak
usah pakai resep. Orang mau belajar, dan kadang tidak diajar, cuma disebul saja
itu, sudah masuk ilmunya. Ada kiai-kiai seperti itu, dulu itu.
Tapi sekarang, karena susah—tidak tahu, apa masih ada apa enggak, kiai yang
bisa seperti itu kualitasnya—kita selenggarakan macam-macam. Kita bikin
Rabithah Ma'ahid untuk mengurus lembaga-lembaga pendidikan pesantren. Kita
bikin LP Ma’arif untuk sekolah-sekolah, madrasah-madrasah. Kita bikin Lembaga Pengembangan
Pertanian NU—yang dipimpin Candra tadi. Kita bikin lembaga kesehatan. Kita
bikin lembaga kemaslahatan keluarga, dan lain sebagainya. Ini sebetulnya untuk
mewujudkan kembali kapasitas-kapasitas fungsi kehadiran para ulama masa lalu,
pendahulu kita, di zaman sekarang ini.
Mengamalkan ilmu
Hadirin wal hadirat. Yang ingin saya ingatkan dalam hal ini adalah bahwa,
walaupun kita melakukan banyak ikhtiar-ikhtiar lahir—ikhtiar-ikhtiar lahiriyah
seperti yang saya sampaikan tadi—kita tidak boleh lupa pada satu garis yang
sebetulnya menjadi pokok dari warisan kita, bahwa keulamaan itu bukan hanya
soal pengetahuan. Keulamaan itu bukan hanya soal pintar-pintaran, tapi
keulamaan itu adalah soal juga keteguhan di dalam memegangi dan mengamalkan
ilmunya.
Di dalam nasyrah yang tadi saya sebutkan, Hadratussyekh menyitir salah satu
hadis Rasulillah Muhammad sallallahu
alaihi wasallam yang mengatakan, "Innal ulamā’ umanaullāh ‘alā 'ibādi."
Bahwa ulama itu adalah orang-orang kepercayaan Allah untuk mengasuh hamba-hambanya. Apa yang diamanatkan kepada para ulama itu, tentu saja, tidak lain
adalah ilmunya, bahwa dengan ilmunya itulah ulama-ulama ini menjalankan
prinsipnya dan mengasuh umat ini berdasarkan ilmunya. Berdasarkan ilmunya,
bukan berdasarkan yang lain.
Tempo hari saya katakan bahwa di tengah-tengah dunia yang sudah begini
membingungkan ini, apalagi ada medsos dan lain-lain, sehingga ada hoaks, ada
framing, ada buzzer, dan lain sebagainya sehingga segala sesuatu seolah-olah
jadi subhat. Ini mana yang benar, mana yang enggak, semuanya subhat.
Tapi sebetulnya—hadirin wal hadirat—kalau dilihat dari ilmunya ulama,
ilmunya ulama, karena ulama-ulama kita ini semuanya mengaji ilmu dengan
sungguh-sungguh, kalau dilihat dengan ilmunya ulama, semuanya sebetulnya jelas,
tidak ada yang syubhat. Karena prinsip-prinsip dalam ilmunya ulama itu menuntun
kita untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan panduan-panduan, sesuai dengan
ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh syariah.
Ada kaidah “Al-ashlu baqau ma kana ‘ala ma kana” (Hukum asal dari
suatu perkara adalah tetap sebagaimana keadaan sebelumnya [asal mulanya], ed.).
Ada kaidah “Albayyinatu ‘alal mudda’i wal yaminu liman ankara” (Bukti
wajib didatangkan oleh orang yang menuduh [penggugat], sementara sumpah
diwajibkan bagi yang mengingkari tuduhan, ed.). Ada kaidah “Man ista’jala
syaian qabla awanihi ‘uqiba bi hirmanihi” (Barangsiapa tergesa-gesa
mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukum dengan tidak mendapatkan
apa-apa, ed.). Ada kaidah macam-macam yang kalau itu diterapkan semua jadi
jelas. Bagaimana kita harus bertindak jadi jelas, kalau memang ilmunya ulama
itu digunakan sebagai landasan untuk bertindak. Kalau sampai ilmunya ulama
tidak dipakai, apalagi ulamanya sendiri enggak pakai, ini yang bahaya, semuanya
jadi kacau balau, enggak jelas; orang jadi kehilangan panduan.
Amanat ulama di zaman tak menentu
Saya sering mengatakan kepada teman-teman bahwa di tengah-tengah zaman yang
serba tidak menentu ini, semuanya tidak menentu, sampai ke tingkat
internasional, itu semuanya tak menentu. Orang sekarang bingung, besok pagi,
itu yang namanya Donald Trump itu mau ngapain, kita semua orang enggak tahu.
Kemarin begini, besok begitu. Banyak sekarang, orang, tokoh-tokoh yang kemarin
diajak bicara bilang A. “Iya, iya,” setuju A. Besok pagi ganti jadi B. Tidak
karu-karuan. Dunia ini mau memperkirakan apa yang mungkin terjadi itu sudah
sulit sekali karena serba tidak menentu. Dalam keadaan begini, kita harus teguh
menjadi aktor yang penentu, dan itu berarti kita tidak boleh berubah; kita
harus istiqamah, kita harus lurus di dalam prinsip-prinsip yang seharusnya,
supaya ketika orang-orang bingung, orang jadi melihat kita bahwa ini patut
menjadi panutan, menjadi panduan karena selalu jelas, selalu tentu, selalu
teguh di dalam prinsip-prinsip yang dijalankan. Ini artinya kita setia kepada
amanatnya ulama—dan jangan sampai kita mengingkari ini.
Hadratussyekh sendiri dalam nasrah-nya mengatakan—kalau ini kalimat beliau
sendiri—ketika dikatakan bahwa “Innal ulama’ umanaullāh ala ibādih,”
beliau katakan, "Faidza khanū famanilladzi yasiquhunnās." Nah,
“khanu” itu artinya apa? “Khanu” terhadap apa? Terhadap amanatnya. Amanatnya
apa? Ilmunya. Kalau sampai ilmu-ilmu para ulama ini tidak dijadikan prinsip
yang diteguhi, maka orang akan kehilangan panduan sama sekali. Orang tidak akan
tahu siapa yang harus diikuti.
Menguatkan spiritual dengan dzikir
Yang kedua—hadirin hadirat, yang juga sangat penting—adalah bahwa kita ini
mewarisi bahkan kita masih merasakan atsar-nya dari quwwah ruhāniyah para ulama
pendahulu kita. Sampai sekarang atsar dari quwwah ruhaniyah Syeikhona
Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif dan Hadratussyekh Kiai Muhammad Hasyim
Asy'ari masih kita rasakan sampai sekarang, dalam berbagai wujudnya; apalagi di
dalam wujud keberadaan jam'iah Nahdlatul Ulama ini.
Nah, sekarang tugas kita, amanat yang kita harus pikul bersama-sama adalah
bagaimana kita mempertahankan hidupnya quwwah ruhaniyah yang diwariskan oleh
para pendahulu kita itu.
Saya perlu menyebut hal ini karena saya merasakan, sekarang ini orang
semakin jarang berbicara tentang quwwah ruhaniyah. Saya melihat, bahkan di
kalangan pesantren berkembang dengan sangat kuat, ghirah di berbagai bidang.
Ghirah ilmiah luar biasa kuat. Pesantren-pesantren berlomba-lomba mendirikan ma'had
aly. Bahkan Kiai Syafiq ini sedang berencana mendirikan perguruan
tinggi. Quwwah ‘ilmiah, ghirah’ ilmiyah kuat sekali. Ghirah
iqtishadiyah juga kuat sekali. Banyak pesantren ingin mendirikan
lembaga-lembaga ekonomi, kemandirian ekonomi pesantren, dan lain-lain. Bikin
SPPG, yang dimotori Pak Kiai Hodri Ariev ini. Quwwah iqtishadiyah. Tapi
ghirah ruhaniyah ini sudah semakin jarang kita dengar, sudah semakin jarang
kita rasakan berkembang di antara kita semua.
Oleh karena itu, saya berharap, saya mohon—terutama kepada para kiai,
pengasuh, santri-santri ini, dan juga kepada para pimpinan Nahdlatul Ulama
berbagai tingkatan, para kader, warga—mari kita bangkitkan kembali ghirah
ruhaniyah ini. Memang jadi tidak mudah, ghirah ruhaniyah itu. Karena
sekarang ini orang juga susah membedakan mana wirid yang untuk quwwah
ruhaniyah yang sejati, mana wiridnya dukun, itu sudah susah dibedakan.
Syekhona Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif menjadi punya karamah
sebegitu rupa,
itu bukan tujuan. Tidak ada wirid bagaimana supaya bisa tolak hujan pakai
ini bisa mandhi (manjur)—itu tidak ada. Beliau begitu. Jadi begitu
itu karena bawaan dari quwwah ruhaniyah yang beliau capai setelah melakukan
berbagai macam riyadah karena ghirah ruhaniyah yang beliau bubuk sekian lama.
Hasilnya bisa seperti itu.
Nah, banyak orang sekarang ini, wiridan itu, ada ghirah rohaniah,
cita-citanya supaya jadi dukun yang manjur. Itu banyak sekarang. Kadang-kadang
orang wirid, apalagi tidak pakai mursyid, kadang-kadang kebanyakan wiridnya,
tidak kuat mentalnya. Itu juga terjadi.
Nah, yang paling aman—Bapak Ibu sekalian—kalau kita melakukan dzikir ini
secara berjamaah. Ini yang paling aman. Dan, menurut saya, ini sudah
waktunya.
Zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja sudah ada peringatan dari
Allah:
“A lam ya'ni lilladzîna âmanû an takhsya‘a qulûbuhum lidzikrillâhi wa
mâ nazala minal-ḫaqqi wa lâ yakûnû kalladzîna ûtul-kitâba ming qablu fa thâla
‘alaihimul-amadu fa qasat qulûbuhum, wa katsîrum min-hum fâsiqûn.” (QS.
Al-Hadid: 16).
Sudah waktunya kita ini kembali kepada dzikrullah. Sudah waktunya kita ini
berteguh dengan ajaran-ajaran Allah. Jangan sampai kita ini kayak umat-umat
terdahulu. Karena ini sudah mengkhawatirkan.
NU ini, sejak zaman Reformasi sampai sekarang, enggak ada yang enggak enak.
Dulu itu, orang NU jadi pegawai negeri saja tidak bisa. Sebelum Reformasi,
tidak bisa jadi pegawai negeri. Sekarang, asal ngaku NU, apalagi dzuriyahnya
syaikhona, wah, gampang jadi bupati, sampai rebutan, saking gampangnya. Enggak
ada yang enggak enak sesudah Reformasi.
Maka jangan sampai kita ini, nakûna “..kalladzîna ûtul-kitâba ming
qablu fa thâla ‘alaihimul-amadu fa qasat qulûbuhum..” (QS. Al-Hadid:
16). Wal ‘iyādzu billāh tsummal ‘iyādzu billāh. Maka, qad āna ‘alaina
“..lidzikrillâhi wa mâ nazala minal-ḫaqqi. (QS. Al-Hadid: 16).
Mari kita kembali kepada dzikir. Dan supaya aman, dzikir ini mari kita
lakukan secara berjamaah. Maka saya ingin mengajak kepada seluruh kader-kader
dan warga NU, mari kita hidupkan majelis-majelis dzikir yang dulu begitu hidup
di zaman para pendahulu kita. Lailatul ijtima’-lailatul ijtima’ untuk berzikir
bersama, mari kita hidupkan kembali. Kalau sudah kehabisan bahan untuk ceramah,
enggak usah pakai ceramah enggak apa-apa, yang penting dzikir saja. Karena justru
yang penting itu zikirnya itu, zikir berjamaah untuk mendoakan kemaslahatan
kita bersama, mendoakan kemaslahatan jam'iyah Nahdlatul Ulama, mendoakan
kemaslahatan bangsa dan negara.
Optimistis menjemput masa depan
Maka—hadirin wal hadirat yang saya hormati—mari kita jalani dengan penuh
optimisme masa depan yang akan kita jemput, walaupun di tengah berbagai
kesulitan yang mungkin harus kita alami, di tengah berbagai gejolak yang
mungkin tidak terelakkan harus kita alami. Mari kita jemput dengan optimisme bahwa
jam'iyah Nahdlatul Ulama ini sungguh-sungguh jam'iyah yang mubarokah; bahwa
jam'iyah ini sungguh-sungguh membawa barokah bagi kita semua. Insyaallah, apa
pun yang terjadi.
Kalau kita merasakan gejolak, ini sebetulnya karena turunnya nikmat
besar-besaran dari Allah.
Bapak Ibu, kalau hujan cuma rintik-rintik, itu enggak akan ada banjir,
enggak akan ada gejolak macam-macam di sungai. Tapi kalau hujan deras
besar-besaran, pasti, pasti ada ombak, pasti ada banjir sedikit-sedikit. Itu
pasti. Saya kira, bahwa kita harus mengalami berbagai macam gejolak dan
dinamika ini, justru, husnudzan kita, adalah karena besarnya anugerah karunia
nikmat yang sedang diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita semua.
Insyaallah, sesudah ini, kalau yang namanya zabat-zabat itu sudah
tersingkir, sudah yadz-habu jufâ'â semua, maka “wa ammâ mâ yanfa‘un-nâsa
fa yamkutsu fil-ardl..” (QS. Ar-Ra’d: 17). Insyaallah. Amīn ya rabbal ‘ālamīn.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala dengan barokah karamah dari Syaikhona Kiai
Muhammad Kholil Bangkalan senantiasa menaungi kita semua dan disediakan untuk
kita semua masa depan yang lebih baik, yang lebih cerah, yang lebih
membahagiakan untuk kita dan para penerus kita. Amīn.
Saya ucapkan, sekali lagi, terima kasih.
Wallāhul muwaffiq ilā aqwāmith tharīq.
Wassalāmualaikum warahmatullāh wabarakātuh.
